uas sosiologi 2019
MAKALAH
“ PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER DI USIA
DINI DALAM ANALISIS TEORI HABITUS, PIERRE BOURDIEU ”
Disusun
untuk memenuhi tugas Ujian Akhir
Semester (UAS)
Mata
Kuliah : Sosiologi
Dosen
Pengampu : Syamsul
Bakhri, M. Sos
NAILI
FALAHIYAH
NIM
: 3118012
Kelas A
JURUSAN ILMU AL-QUR’AN
DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Anak merupakan titipan dari Allah yang akan
menjadi generasi penerus bangsa. Anak diharapkan dapat tumbuh dan berkembang
dengan sebaik-baiknya sehingga nantinya menjadi orang dewasa yang sehat jasmani
dan rohaninya. Dengan seperti itu, perkembangan potensi dan minat bakatnya akan
menjadi berkualitas sehingga mampu meningkatkan sumber daya manusia.
Anak yang baik lahir dari pendidikan orang
tua yang baik pula. Seorang anak akan bergerak, berperilaku sesuai dengan
pengajaran orang tua. Tidak bisa dipungkiri, bahwa peran orang tua dalam
pembentukan karakter dan kepribadian anak
sangatlah penting. Contohnya mengajarkan berbicara dengan bahasa yang
sopan dalam kehidupan sehari-hari sejak kecil, tunduk ketika melewati orang
yang lebih tua, dan lain sebagainya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Pendidikan karakter oleh orang tua
khususnya seorang ibu akan berdampak bagi kehidupan si anak setelahnya. Orang
tua yang biasa mengajari anaknya dengan hal-hal yang positiv akan menimbulkan
dampak baik bagi anaknya begitupun sebaliknya. Si anak akan tumbuh dan
berkembang dengan pengawasan orang tuanya karena pendidikan pertama seorang
anak berasal dari keluarganya sendiri. Anak belajar dari kehidupannya. Seorang
anak yang dibesarkan dengan ketakutan, mereka belajar cemas. Sedangkan seorang
anak yang dibesarkan dengan semangat, mereka akan belajar untuk percaya diri.
Dengan demikian pendidikan karakter sejak usia dini sangatlah dibutuhkan untuk
perkembangan anak kedepannya agar menjadi dewasa yang kuat fisik dan mental
serta menjadi manusia hebat. Merosotnya moral di era sekrang ini faktor salah
satunya karena kurangnya pendidikan karakter yang diberikan oleh keluarga.
Dalam makalah ini, akan mencoba menjelaskan sedikit tentang bagaimana peran
penting orang tua kepada anak di usia dini dengan pendidikan karakter untuk
menghasilkan genarsi hebat kedepannya dengan analisis teori Habitus, Pierre
Bourdieu.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana pentingnya pendidikan karakter
anak di usia dini?
2. Bagaimana penerapan teori Habitus, Pierre
Boerdieu dalam analisis pentingnya peran orang tua dalam pendidikan karakter?
C. Tujuan
Masalah
1. Agar mengetahui pentingnya pendidikan
karakter dari orang tua untuk anak di usia dini
2. Agar mengetahui penerapan teori habitus
dalam pentingnya pendidikan anak dari usia dini
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan Pertama
Anak Usia Dini
Orang tua merupakan orang yang bertanggung
jawab pertama dan utama dalam pendidikan anak-anaknya. Pendidikan dari keluarga
sangat berpengaruh bagi keberhasilan anak. Dalam pelaksaannya orang tua meminta
bantuan guru ataupun bimble untuk mendidik dan mempelajari pelajaran formal
kepada si anak. Kendati demikian, orang tua tetap harus selalu mengawasi dan
memperhatikan si anak guna keberhasilan mereka. Kepribadian dan semangat si
anak juga tergantung dari dorongan orang tua yang merupakan orang terdekat di
lingkungannya.[1]
Usia dini dimulai sejak anak masih di dalam
kandungan sampai dengan berusia 6 tahun. Otak anak pada usia tersebut mengalami
perkembangan yang sangat pesat, terutama sebagai pusat kecerdasan. Usia dini
juga sering disebut masa keemasan (golden age) yaitu ,asa dimana stimulasi
semua aspek perkembangan mengambil peran penting bagi kehidupan anak
selanjutnya. Karena pada usia ini, otak anak memngalami perkembangan sekitar 80
persen dari total proses perkembangan. Lebih tepatnya pada usia empat bulan
dalam kandungan.[2]
Terdapat dua aspek penting yang sangat
berpengaruh dalam pertumbuhan, yaitu seberapa besar interaksi orang tua dan
anak serta seberapa cepat pesan-pesan bergerak dari satu saraf ke saraf
lainnya, dan seberapa baik koneksi antar saraf itu. Bagi para orang tua harus
memberikan teladan yang baik kepada putra-putrinya sejak kecil. Setiap
perilaku, tutur kata, bahkan gerak-gerik orang tua akan terekam secara sempurna
oleh anak. Dengan demikian, jika ingin mencetak pendidikan karakter yang baik,
orang tua terlebih bdahulu yang baik karakternya, setelah itu guru atau
pengajar dan seterusnya. Artinya si anak berada dalam lingkungan yang baik
pula.[3]
B. Nilai-Nilai
Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
Pendidikan karakter merupakan keseluruhan
dinamika relasional antar pribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari
dalam maupun dari luar dirinya, agar pribadi tersebut lebih memahami dan
menghayati kebebasannya sehingga dapat bertanggung jawab atar pertumbuhan
dirinya sebagai pribadi dan perkembangan orang lain dalan hidup mereka.[4]
Membangun karakter sejak anak usia dini
harus sudah dibiasakan oleh orang tua maupun guru. Karena jika sejak kecil anak
sudah dididik dengan karakter yang kuat dan positif, maka dalam perkembangan
selanjutnya tinggal memupuk serta memperkaya perspektif karakter anak. Adapun
karakter yang akan membawa keberhasilan dan harus ditanamkan pada anak,
diantaranya:
a. Empati, yaitu mengasihi sesamaseperti diri
sendiri
b. Tahan uji, yaitu tetap tabah dan ambil
hikmah kehidupan serta bersyukur dalam keadaan apapun.
c. Beriman kepada Tuhan.[5]
Pola asuh orang tua atau keluarga sangat
menentukan karakter anak kedepannya. Keluarga dengan pola asuh yang demokratis
dapat menciptakan keharmonisan, baik antara ayah dan ibu ataupun ayah dengan
anak dan ibu dengan anak. Anak yang diasuh secara demokratis cenderung aktif,
berinisiatif, tidak takut gagal karena anak diberi kesempatan untuk berdiskusi
dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga. Lain halnya pola asuh yang
otoriter, akan menghasilkan anak yang penakut, tertutup, pendiem, tidak
berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, dan cemas serta menarik
diri. Secara tipe pola asuh memang memilki kelebihan dan kekurangan, tergantung
siapa yang menerapkannya. Mungkin saja pola asuh seperti ini dianggap nyaman
oleh orang tua si A lain halnya tanggapan dari orang tua si B.[6]
Menurut Dorothy Law Nolte, seseorang anak
akan belajar dari kehidupannya. Anak yang dibesarkan dengan celaan, mereka
belajar memaki. Anak yang dibesarkan dengan permusuhan, mereka belajar
berkelahi. Anak yang dibesarkan dengan ketakutan, mereka belajar cemas.
Melainkan, anak yang dibesarkan dengan dorongan semangat, mereka akan percaya
diri. Anak yang dibesarkan dengan toleransi, mereka belajar sabar. Anak yang
dibesarkan dengan rasa aman, mereka belajar yakin pada diri sendiri dan orang
lain, dan lain sebagainya.[7]
C. Model
Pendidikan Karakter
1.
Model pendidikan karakter pada usia anak-anak (SD/MI)
Model pendidikan karakter yang efektif menggunakan
model komprehensif, artinya dari semua aspek. Pendidikan karakter
diintegrasikan ke dalam berbagai bidang studi. Metode dan strategi yang
digunakan bervariasi yang sebisa mungkin mencakup aspek soft skill, fisiologi,
psikologi, dan emosional.sarana dan prasarana dalam pendidikan karakter di
kelas maupun di masyarakat dapat berbentuk kegiatan yang mengikutsertakan juga
partisipasi dari orang tua, yang lebih dekat dengan anak.
2.
Model pendidikan karakter pada usia remaja (SMP dan
SMA)
Dalam usia remaja, model pendidikan karakter dapat di
klasifikasi dengan tiga model. Model perintah (command) di realisasikan
dalam timdakan: memperingatkan, melarang, menegur, memerintah, mendesak dan
mengharuskan. Model permintaan (request) direalisasikan dalam tindakan:
memohon, meminta, menghimbau, mengharap, dan mengajak. Model saran (sugggest)
dilakukan dalam kegiatan menasehati, menganjurkan, menawarkan, mendorong,
mempersilahkan dan menyarankan.
Model perintah diintegrasikan dengan bermain peran,
simulasi, dan diskusi kelompok. Model permintaan diintegrasikan dengan
keteladanan, simulasi, dan bermain peran. Model saran diintegrasikan dengan
kegiatan bhakti sosial, kunjungan lapangan, dan problem solving.
3.
Model pendidikan karakter pada dewasa (Perguruan
Tinggi)
Karakter pada orang dewasa memang sudah mendarah daging, atau sulit
sekali untuk diubah. Membiasakan untuk membentuk akhlak mulia dan kultur yang
baik, jika hal tersebut belum dilakukan dimasa kecil. Karena pada umunya,
karakter orang dewasa sudah terbentuk sejak anak-anak dan remaja. Pendidikan
karakter lebih efektif jika muncul dari kesadaran diri sendiri. Bentuk-bentuk
pendidikan karakter usia dewasa antara lain: melalui ceramah dan pengajian,
pengangkatan tema pendidikan karakter dalam forum seminar atau dialog
interaktif, diskusi, sosial media, film, penulisan tugas karya tulis ilmiah,
belajar dari pengalaman hidup orang lain, dan lain sebagainya.[8]
D. Peran Orang
Tua dalam Peningkatan Prestasi Belajar Anak
Pencapaian belajar seorang anak, pada
umunya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal (dari dalam diri
anak) dan faktor eksternal (dari luar diri anak). Faktor internal,
meliputi faktor fisiologis atau yang berkaitan dengan keadaan fisik dan panca
indera anak serta faktor psikologis yang berkaitan dengan kejiwaan yaitu
intelegensi, motivasi, bakat, minat, dan kesiapan. Yang kedua faktor eksternal,
meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.[9]
Dari semua faktor dari luar di atas, orang
tualah yang memiliki peran penuh dalam menentukan prestasi belajar anak,
kendati anak sudah menerima pendidikan formal dengan dititipkan di sekolah. Ada
tiga peran orang tua dalam prestasi belajar anak, yaitu:
1.
Menyediakan kesempatan sebaik-baiknya kepada anak
untuk menemukan minat, bakat, serta kecakapan-kecakapan lainnya serta mendorong
anak agar meminta bimbingan dan nasihat kepada guru
2.
Menyediakan informasi-informasi penting dan relevan
yang sesuai dengan bakat dan minat anak
3.
Menyediakan fasilitas atau sarana belajar serta
membantu kesulitan belajarnya.[10]
Dengan demikian, peran orang tua dalam mendukung
prestasi belajar anak, yaitu: orang tua sebagai pengasuh dan pendidik,
pembimbing, motivator, dan fasilitator terhadap belajar anak secara
berkelanjutan.[11]
E. Teori Habitus Pierre-Felix Bourdieu
1. Biografi Singkat Pierre Bourdieu
Bourdieu atau Pierre-Felix Bourdieu lahir di Denguin,
wilayah Pyerenia Atlantilk, Prancis pada 1 Agustus 1930.[12]
Bourdieu adalah anak dari seorang tukang pos desa. Ia menjalani kehidupan
SMA-nya (Lycee) di Pau sebagai siswa yang cemerlang dan terkenal di
sekolahannya. Dia kemudian pindah ke Lycee louis-le-Grand di Paris. Dari sini,
dia bisa diterima masuk Ecole Nornale Superieure dan belajar filsafat kepada
Louis Althusser.[13]
Dari sejak lulus sekolah dasar, Bourdieu melanjutkan
pendidikan ke Pau. Dari sini dia mulai menunjukkan bakat akademiknya dan
mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Dia kemudian menempuh pendidikan di
Louis-le-Grand di Paris yang disebut dengan “tempat pelatihan” untuk masuk
kelas elit. Kemudian, pada tahun 1951, Bourdieu lulus tes ke ENS dan memilih
menekuni filsafat. Lulus dari ENS, Bourdieu berpindah-pindah mengajar di
berbagai tempat dan menduduki berbagai macam kedudukan seperti Rektor serta dia
juga sempat menulis buku yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa pada saat
itu.[14]
2. Pemikiran Bourdieu
Bourdieu merupakan salah seorang tokoh sosiologi
kultural. Bourdieu juga disebut sebagai sosiolog, antropolog, dan etnolog.
Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh para pemikir: Aristoteles, Thomas Aquinas,
Hegel, Marx, Durkheim, Max Weber, Picasso,Frans Fanon, Jeane Paul Sartre,
Huserl, Sausure, Leni Strauss, Wittgenstein, Martin Heidegger, Michel Foucault,
dan lain-lain.
Dari pendapat para tokoh di atas, Bourdieu meramu
menjadi suatu pemikiran baru yang disebut dengan metode
strukturalisme-konstruktif. Melalui metode ini, Bourdieu menyintesiskan antara
teori yang terlalu menekankan struktur dan objektifitas dengan teori yang
menekankan peran aktor dan subjektifitas.[15]
Karya Bourdieu ada karena sebagai usaha untuk
mentransformasikan serangkaian oposisi yang mewarnai ilmu-ilmu sosial, seperti:
subjektivisme, objektivisme, mikro-makro, kebebasan-determinisme, nature-hystory,
doxa-episteme, material-simbolik, kesadaran-ketidaksadaran, oleh
struktur, ekonomi, dan budaya. Bourdieu melakukan hal-hal ini melalui inovasi-inovasi
konseptual, konsep habitus, modal, dan ranah disusun dengan niat untuk
menghapus oposisi-oposisi sejenis itu.karya-karya Bpurdieu sangatlah beragam
karena Bpurdieu sendiri memang seorang pemikir hebat. Dia ahli dibidang
sosiolohi, antropologi, dan ilmu filsafat serta menuliskan karya-karya klasik
dalam setiap bidang keilmuan.[16]
3. Teori Habitus Pierre Bourdieu
Teori yang dikemukakan oleh Pierre-Felix Bourdieu
disebut teosi struktural konstruktifatau sering juga disebut dengan teori
praktik sosial. Konsep penting dalam teori ini yaitu, habitus,
arena/ranah/medan (field), kekerasan simbolik (symbolic violence),
modal (capital), dan strategi (strategy).
Konsep mengenai habitus merupakan kata kunci dari
sintesa teoretis Bourdieu. Menurutnya, habitus merupakan suatu sistem melalui
kombinasi struktur objektif dan sejarah personal, disposisi yang berlangsung
lama dan berubah-ubahyang berfungsi sebagai basis generatif bagi
praktik-praktik yang terstruk dan terpadu secara objektif.
Habitus merupakan suatu produk dari sejarah yang
terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakatnya dalam
ruang dan waktu tertentu. Habitus bukan bawaan alamiah atau suatu hal yang
kodrati, melainkan merupakan hasil dari pembelajaran lewat pengasuhan dan
bersosialisasi dalam masyarakat. Proses ini sangat halus dan tidak disadari
akan tambil dan diperbuat sebagai suatu hal yang wajar atau menjadi suatu
kebiasaan.[17]
Habitus dapat terarah dan terfokuskan pada tujuan dan
hasil tindakan tertentu, tetapi tanpa ada kesadaran untuk mencapai hal-hal
tersebut. Hal ini disebabkan oleh sifat sosial (buukan individual), banyak
orang atau hampir semuanya mudah untuk melakukan dan tidak perlu peraturan
khusus untuk menolaknya. Tujuan yang sudah tertanam di dalamnya juga yang memberinya
sifat sosial untuk memenuhi kepentingan bersama. Keberadaan inilah juga
menegaskan bahwa habitus (kebiasaan sosial) seharusnya bersifat positif. Tujuan
untuk kesejahteraan dan kenyamanan pulalah yang membedakan kebiasaan sosial
dalam arti habitus dan kebiasaan sosial dalam rangka sopan santun.[18]
Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan
sosial. Disatu sisi habitus adalah “struktur yang menstruktur” (structuring
structures), maksudnya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur
kehidupan sosial. Disisi lain, habitus adalah “struktur yang terstrujtur” (structured
strukture), artinya struktur yang distrukturi oleh dunia sosial.[19]
F. Analisis
Teori Bourdieu dengan Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
Dapat disimpulkan bahwa habitus merupakan
kebiasaan yang tertanam di dalam diri manusia tanpa disadari. Menurut Bourdieu
sendiri, habitus adalah suatu sistem disposisi atau suatu yang sudah menetap
dalam diri manusia yang berlangsung lama dan bisa berubah-ubah yang berfungsi
sebagai basis generatif bagi praktik-praktik sosial yang terstruktur dan
objektif.[20]
Habitus atau kebiasaan yang sudah ada sejak kecil semestinya diisi dengan
hal-hal yang positif guna mendidik karakter anak. Seorang anak yang sudah
terbiasa melakukan kebiasaan sosial yang baik akan tumbuh dan berkembang sesuai
dengan norma dan aturan yang berlaku.
Dari sini pendidikan karakter sangatlah
diperlukan untuk menciptakan habitus yang baik. Pendidikan pertama seorang anak
yaitu dari lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga harus menyeragamkan habitus
terhadap lingkungan masyarakatnya, karena nantinya dalam praktik sosial akan
sesuai. Menurut Bourdieu, habitus dapat bertahan lama namun juga dapat berubah
dari waktu ke waktu. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial,
artinya pendidikan karakter dari dini yang baik akan memunculkan karakter dan
kepribadian anak yang baik pula. Habitus yang ada pada suatu waktu tertentu
merupakan hasil dari kehidupan kolektif yang berlangsung lama.
Anak akan berperilaku baik dan positif
karna mereka mendapat pendidikan karakter dari orang tua yang baik pula. Anak
akan cenderung melakukannya tanpa disuruh dan terasa bahwa hal itu sudah
terbiasa, artinya anak tak akan sungkan untuk melakukannya dan tidak merasa
keberatan. Untuk mengatasi perkembangan moral yang kurang baik pada anak di
era digital ini memang sangatlah perlu pen didikan karakter dari lingkungan
keluarga. Keluarga memberikan pengawasan penuh dan berpartisi terhadap segala
kegiatan anaknya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Peran orang tua dalam pendidikan karakter
anak adalah hal yang sangat urgent. Interaksi dan pendidikan pertama
seorang anak berasal dari orang tua, keluarga. Orang tua yang harus mampu
membiasakan si anak dengan perilaku-perilaku yang baik sehingga kedepannya akan
memunculkan habitus yang baik pula. Tak hanya itu, bahwa dorongan semangat dari
orang tua mampun meningkatkan rasa percaya diri pada anak. Anak akan tumbuh dan
berkembang sesuai dengan pendidikan karakter yang orang tua ciptakan sejak
dini. Banyak dari anak sekarang yang moralnya kurang baik, salah satu faktornya
yakni kurangnya pengawasan penuh dan pendidikan karakter yang baik dalam
lingkungan keluarga.
Habitus pada anak berpotensi lebih besar
bertahan lama, dari habitus yang mulai dilakukan sekarang-sekarang ini. Tetapi,
tidak ada salahnya, karena habitus tidak hanya bisa dipupuk dari kecil, melainkan
setelah besarpun dapat dilakukan, yang penting bisa continue dalam
melakukannya.
DAFTAR PUSTAKA
Wibowo, Agus. 2013. Pendidikan Karakter
Usia Dini. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
Koesoema, Doni. 2010. Pendidikan karakter.
Jakarta. PT. Gressindo
Arifin. 1992. Pokok-Pokok Pemikiran tentang
Bimbingan Penyuluhan Agama. Jakarta. Bulam Bintang
Noltem Dorothy Law&Harris, Rachel. 2016. Anak-Anak
Belajar dari Kehidupannya, Yogyakarta. Pustaka Pelajar
Umar, Munirwan. 2015. Jurnal Peranan Orang Tua
dalam Peningkatan Prestasi Belajar Anak. Banda Aceh. UIN Ar-Raniry
Suharsono, Joko Tri dkk. 2009. Jurnal Hubungan Pola
Asuh Orang Tua terhadap Kemampuan Sosialisasi Pada Anak Prasekolah. Purwokerto.
Universitas Jenderal Soedirman
Mulyatiningsih, Endang. Jurnal Analisis
Model-Model Pendidikan Karakter untuk Usia Anak-Anak, Remaja, dan Dewasa. Yogyakarta.
FT UNY, Karang Malang
Krisdinanto, Nanang. 2014. Jurnal Pierre Bourdieu,
Sang Juru Damai. Surabaya. Universitas Katolik Widya Mandala
Adib, Mohammad. Jurnal Agen dan Struktur dalam
Pandangan Piere Bourdieu. Surabaya. Universitas Airlangga, FISIP
Siregar, Mangihut. 2016. Jurnal Studi Kultural :
Teori Gado-Gado Pierre-Felix Bourdieu. Universitas Udayana
[1] Munirwan Umar, Jurnal Peranan Orang Tua dalam Peningkatan Prestasi
Belajar Anak, (Banda Aceh: UIN Ar-Raniry, 2015) hlm. 20
[6] Joko Tri Suharsono, dkk, Jurnal Hubungan Pola Asuh Orang Tua
terhadap Kemampuan Sosialisasi Pada Anak Prasekolah, (Purwokerto:
Universitas Jenderal Soedirman, 2009) hlm. 114-115
[7] Dorothy Law Nolte&Rachel Harris, Anak-Anak Belajar dari
Kehidupannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016) hlm. ix
[8] Endang Mulyatiningsih, Jurnal Analisis Model-Model Pendidikan
Karakter untuk Usia Anak-Anak, Remaja, dan Dewasa, (Yogyakarta: FT UNY,
Karang Malang) hlm. 7-14
[9] Munirwan Umar, Jurnal Peranan Orang Tua dalam Peningkatan Prestasi
Belajar Anak, (Banda Aceh: UIN Ar-Raniry, 2015) hlm. 23-25
[10] Arifin, Pokok-Pokok Pemikiran tentang Bimbingan Penyuluhan Agama,
(Jakarta: Bulam Bintang, 1992)
[11] Munirwan Umar, Jurnal Peranan Orang Tua dalam Peningkatan Prestasi
Belajar Anak, (Banda Aceh: UIN Ar-Raniry, 2015) hlm. 27
[12] Nanang Krisdinanto, Jurnal Pierre Bourdieu, Sang Juru Damai,
(Surabaya, Universitas Katolik Widya Mandala, 2014) hlm. 191
[13] Mohammad Adib, Jurnal Agen dan Struktur dalam Pandangan Piere
Bourdieu, (Surabaya: Universitas Airlangga, FISIP) hlm. 91
[14] Nanang Krisdinanto, Jurnal Pierre Bourdieu, Sang Juru Damai,
(Surabaya, Universitas Katolik Widya Mandala, 2014) hlm. 192
[15] Mangihut Siregar, Jurnal Studi Kultural : Teori Gado-Gado
Pierre-Felix Bourdieu, (Universitas Udayana, 2016) hlm. 79
[16] Mohammad Adib, Jurnal Agen dan Struktur dalam Pandangan Piere
Bourdieu, (Surabaya: Universitas Airlangga, FISIP) hlm. 94-95
[17] Mangihut Siregar, Jurnal Studi Kultural : Teori Gado-Gado
Pierre-Felix Bourdieu, (Universitas Udayana, 2016) hlm. 80-81
[18] Mohammad Adib, Jurnal Agen dan Struktur dalam Pandangan Piere
Bourdieu, (Surabaya: Universitas Airlangga, FISIP) hlm. 102
[19] Nanang Krisdinanto, Jurnal Pierre Bourdieu, Sang Juru Damai,
(Surabaya, Universitas Katolik Widya Mandala, 2014) hlm. 199
[20] Mangihut Siregar, Jurnal Studi Kultural : Teori Gado-Gado
Pierre-Felix Bourdieu, (Universitas Udayana, 2016) hlm. 81

Komentar
Posting Komentar